![]() |
![]() |
|
![]() |
News and Article«« archiveTeaching Love Covers Sins
“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” 1 Petrus 4:8 Di dalam 1 Kor. 13:7 dikatakan bahwa “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”. Dari kedua ayat ini Tuhan berkata bahwa kasih itu menutupi segala sesuatu yaitu dosa, pelanggaran, dan kelemahan orang lain. Yang dimaksud di dalam ayat ini adalah bukannya kita menutupi dosa atau pelanggaran yang dilakukan seseorang tetapi applikasi dari kasih itu ialah menutupi kelemahan-kelemahan orang lain. Ketika kita melihat orang lain mempunyai kelemahan, dan kita masuk dan mengisi kelemahan orang itu, maka kita telah bertindak dalam kasih dengan menutupi kelemahan orang itu. Kita bukannya membohongi ataupun menutup-nutupi perbuatan orang itu, tetapi kita mengisi, kita mendukung kelemahan orang itu. Oleh sebab itu firman Tuhan berkata hendaklah engkau cepat untuk mendengar dan lambat untuk berkata-kata, yang artinya adalah kita cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk memberikan kesimpulan atau penghakiman melalui kata-kata kita. Kita seringkali memberikan penghakiman, penghukuman ataupun kesimpulan kita ketika kita mendengar sesuatu. Ketika kita memberikan kesimpulan kita dari awal sebelum kita melihat pada akhirnya, maka kita tidak menutupi kesalahan. Apabila kita mau menutupi kesalahan, ketika kita mengetahui seseorang mempunyai kelemahan tetapi orang tersebut mempunyai hati yang benar, kita masuk dan menutupi kelemahan orang itu dan kita mencegah orang tersebut dari berbuat salah, maka dengan menutupi kelemahan orang tersebut kita sudah berbuat kasih terhadap orang lain. Ketika kita mulai membicarakan kesalahan orang itu, maka kita tidak bertindak dalam kasih, dan kita menjadi orang yang suka gossip. Ketika kita mulai membicarakan kelemahan orang lain, maka kita bukannya memperbaiki keadaan orang tersebut tetapi kita malah membuat orang tersebut menjadi lebih berdosa. Oleh sebab itu kita jangan cepat-cepat memberikan komentar terhadap orang lain, karena Tuhan belum selesai dengan orang tersebut. Tanpa kita sadari, ketika kita mulai memberikan komentar terhadap orang lain, maka kita sudah memberikan penghukuman atas orang tersebut tetapi kita sendiri tidak mengambil bagian ataupun terlibat didalamnya. Salah satu tindakan Tuhan Yesus dalam menutupi kesalahan orang adalah ketika Dia mendapati seorang perempuan samaria yang berdosa karena ia berbuat zinah, maka apa yang dikatakan Tuhan Yesus kepada orang-orang farisi dan para ahli taurat; “barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” Tetapi tidak seorang pun yang melempari perempuan itu dan satu persatu mereka meninggalkan perempuan itu, lalu Yesus berkata; “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawab perempuan itu; “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:3-11. Salah satu cara untuk menutupi dosa adalah melalui pengampunan, karena ketika kita mengampuni kelemahan orang, mengampuni kesalahan orang yang telah berbuat dosa, maka kita sedang menutupi dosa orang itu. Yesus berkata dosamu sudah di ampuni, dan ketika Dia berkata dosamu sudah di ampuni, maka itu adalah bentuk kasih. Ketika kita mengampuni kesalahan orang yang telah berbuat salah, maka kita sedang menutupi kesalahan orang itu dan kita tidak terikat dengan kebencian kita. Ketika kita melepaskan pengampunan, maka orang tersebut akan mengalami kebebasan. Demikian juga kita ketika dosa kita di ampuni Tuhan, maka kita menjadi orang yang di bebaskan. Salah satu cara kita melakukan wujud kasih adalah dengan melepaskan pengampunan kepada orang lain. Apabila kita tidak bisa melepaskan pengampunan, maka kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, siapa kita? Kita tidak ada bedanya dengan orang yang berdosa karena kita mendapat pengampunan dari Tuhan. Oleh sebab itu kita juga harus bisa mengampuni orang yang telah berbuat salah terhadap kita. Sem dan Yafet, ketika Nuh yang dalam keadaan mabuk dan telanjang, mereka menutupi aurat ayahnya, oleh sebab itu Allah memberkati keturunan Sem dan Yafet. Sedangkan Ham yang adalah bapa Kanaan ketika ia melihat perbuatan ayahnya dan mentertawakannya, mendapat kutukan (Kej. 9:21-27). Apabila hidup kita mau di berkati Tuhan dan keturunan kita di berkati oleh Tuhan, kita harus bisa menutupi kelemahan orang lain. Setiap kita, setiap orang mempunyai kelemahan, oleh sebab itu kita harus menutupi kelemahan itu, bukannya kita malah membicarakan kelemahan itu. Ketika kita mendapatkan kelemahan seseorang, dan dengan antusias kita membicarakan kelemahan orang itu, dan kita merasa puas, maka kita tidak mempunyai kasih. Bagaimana kita menutupi banyak kesalahan dan kelemahan orang? 1. Kita harus bisa menyatakan kesalahan dan sekaligus mengajarkan yang benar. Untuk menunjukkan kesalahan orang merupakan hal yang mudah, tetapi apakah kita sanggup untuk mengajarkan yang benar kepada orang itu. Boleh saja kita menunjukan hal-hal yang tidak benar, tetapi kita juga harus mengajarkan yang benar sehingga orang itu tahu mana yang salah dan mana yang benar. Kita tidak boleh menyatakan kesalahan tanpa memberitahukan yang benar. Kalau kita tidak menunjukan hal yang benar, maka orang itu akan kembali lagi berbuat salah dengan versi yang berbeda. Kitab Amsal berkata seorang sahabat sejati dia akan menegur sahabatnya. Tetapi apabila dia adalah seorang musuh dia akan menjilat dan mengatakan yang terlalu baik, mengankat kita yang sebenarnya ia sedang memasang jaring untuk kita. 2. Kita harus menasehati. Sebelum orang lain berbuat salah kita harus menasehati mereka agar mereka tidak berbuat salah. Ketika kita menasehati seseorang maka kita sedang menutupi kesalahan dengan mencegah orang tersebut dari berbuat dosa. 3. Kita harus menegur. Apabila ada hal-hal berbahaya kita harus berani untuk menegur orang tersebut. 4. Kita tidak menjadi pemicu dan penyebar gosip. Ketika kita membicarakan kelemahan orang lain, maka kita sudah menjadi pemicu atau penyebar gosip. Ketika kita menceritakan sesuatu yang kita tidak suka, maka hati kita semakin terluka dan akhirnya hati kita makin pahit dan hati kita tidak lagi menjadi peka dengan Tuhan. Dan pembenaran diri kita akan semakin kuat, karena kita meresa benar. Semakin kita membicarakan akan kelemaha seseorang, maka kita akan semakin tidak suka terhadap orang itu. 5. Kita mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, dan jangan mencampuri urusan orang lain. Kerjakan bagian kita yang terbaik dan jangan kita mencampuri urusan orang lain. Kalau kita mau menutupi kesalahan, kelemahan orang lain, kita jangan mencampuri urusan orang lain. Makin kita mencampuri urusan orang lain, maka hati kita akan tercemar. 6. Kita menolong dan membantu orang lain agar terhindar dari kesalahan dan kejahatannya. Kita harus membantu seseorang yang mempunyai kesalahan atau kelemahan sehingga orang tersebut tidak melakukan kesalahan. Dengan menolong dan membantu orang yang mempunyai kelemahan, maka kita sudah menutupi kelemahan orang itu. «« archive |