Profile & Photo Vision & Mission The History
Buku Kaset, CD, VCD Marketplace Division
All Calendar Seminar KBCT Modul Ministry CPM APC Destiny Tours & Travel
Smart News CPM Teaching KBCT Destiny Tours & Travel APC
Module Register our Teaching Module!
Apostolic Center Teaching Newsletters
About KBCT KBCT Jakarta KBCT Semarang Register Event
About CPM Register Event
About APC Register Event
Resources

News and Article

«« archive

 
Share
Teaching
Beyond the Limits

“Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab: Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.”

Lukas 9:10-17

 

Pada waktu itu di sore hari ada kira-kira lima ribu orang yang mengikuti Tuhan Yesus dan mereka mengikuti Tuhan Yesus karena Dia dapat memberikan jawaban kepada mereka. Kita – gereja Tuhan juga harus bisa memberikan jawaban kepada orang sehingga melalui hidup kita orang dapat melihat dan mengenal Yesus. Diri kita akan menjadi kesaksian dan daya tarik bagi mereka sehingga mereka akan mengikuti kita dan mengenal Kristus.

Pada waktu itu murid-murid meminta agar Yesus menyuruh orang banyak itu pergi mencari makanan mereka sendiri. Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Beri mereka makan”, lalu murid-murid berkata: “Yang ada pada kami hanya lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini”. Inilah pemikiran yang sering terjadi pada kita. Ketika Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu, maka kita langsung berpikir, kita langsung melihat keadaan, kita langsung melihat alternatif yang bisa kita lakukan, dan kita tidak pernah berpikir apa yang Tuhan bisa lakukan.

Yang membatasi pemikiran kita bukanlah musuh kita, tetapi pemikiran kita yang salah ini membuat kita tidak bisa menerobos. Firman Tuhan berkata: “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yoh 5:4). Kita percaya bahwa kita lahir dari Allah, oleh sebab itu kita harus bisa mengalahkan dunia ini. Kitab Roma berkata: “Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom 8:31b). Kita harus percaya apabila Allah di pihak kita, tidak ada yang dapat mengalahkan kita. Tetapi yang seringkali terjadi adalah cara berpikir kita yang salah dan kita selalu melihat kondisi keadaan kita, sehingga kita terus menerus berada di padang gurun dan tidak dapat sampai ke negeri Kanaan. Kita harus hati-hati dengan pola pikir dan pikiran kita, karena sekali kita mempunyai pola pikir yang salah, maka pola pikir yang salah itu akan memengaruhi iman kita. Sekali kita berpikir bahwa kita tidak mampu, maka selamanya kita akan percaya bahwa kita tidak mampu. Kita jangan membiarkan keterbatasan kita menguasai kita, karena keterbatasan ini akan terus melebar dan membatasi kita.

Apa saja yang seringkali membatasi kita dan bagaimana kita bisa keluar dari keterbatasan itu?

1.   Keadaan yang kita hadapi dan hidupi sehingga akhirnya mengkondisikan kita dan membuat kita percaya bahwa kita memang seperti keadaan itu.

Dengan keadaan yang kita alami terus menerus akan membuat kita menerima keadaan itu, sehingga pada akhirnya kita menerima kondisi atau keadaan itu sebagai realitas yang akan memengaruhi kepercayaan kita. Ketika kita memercayai realitas ini, maka kita akan menjalani hidup di dalam keadaan itu. Orang seperti ini akan sulit untuk menerobos, karena keadaan yang mereka lihat dan hidupi sudah menjadi nyata dan realitas di dalam hidup mereka. Kita harus percaya bahwa fakta yang kita hadapi bukanlah realitas hidup kita. Realitas kita adalah “Saya lahir dari Allah, dan kita akan mengalahkan dunia karena jika Allah di pihak kita, siapa yang akan melawan kita.”

 

2.   Hadapi tantangan dan masalah secara nyata bukan bayangannya yang kita hadapi.

Seringkali ketika kita menghadapi suatu masalah, kita tidak melihat permasalah itu sendiri, tetapi yang kita hadapi adalah bayangannya. Ini adalah batasan-batasan imajiner yang membuat hal yang kecil menjadi besar. Murid-murid mengalami hal yang sama, mereka menghadapi bayangan dengan melihat bahwa yang mereka punya hanya lima roti dan dua ikan untuk beri makan 5000 orang. Mereka lupa bahwa Tuhan Yesus ada bersama mereka. Yang harus kita hadapi adalah permasalahannya bukan bayangan-bayangannya.

 

3.   Melihat bayangan akan membuat rasa takut dan khawatir menguasai kita dan membuat kita percaya bahwa kita tidak mampu untuk menghadapinya.

Melihat bayangan-bayangan dari suatu permasalahan akan menimbulkan rasa takut dan khawatir yang berlebihan sehingga membuat kita percaya bahwa kita tidak mampu untuk menghadapi masalah itu, dan ketika bayangan-bayangan itu bercampur menjadi satu dengan rasa takut dan khawatir kita, maka kita akan menjadi orang yang tidak bisa menerobos. Kita jangan berfokus kepada keadaan, keterbatasan, dan ketidakmampuan. Ketidakberdayaan kita yang membuat kita menjadi takut, tetapi kita harus percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang sanggup. Kita harus lawan rasa takut kita dengan firman Tuhan karena Tuhan belum selesai dengan kita.

 

4.   Hati-hati dengan cara berpikir kita yang keliru:

a.      Kita memperhitungkan keadaan dan keterbatasan kita, tetapi kita tidak memperhitungkan Tuhan (Rm. 4:19-20).

b.      Karena kita percaya bahwa aturan yang berlaku umum adalah dasar/ landasan yang kita harus pegang atau berdiri diatasnya.

c.      Kita berpikir di dalam kotak/ kerangka berpikir yang selalu sama.

 

5.   Kita terintimidasi dengan orang-orang di sekitar kita dan masa lalu kita sehingga membuat kita putus asa.

Seringkali perkataan seseorang  dan masa lalu kita membuat kita sulit untuk menerobos.

·       Elia mengalami intimidasi yang membuat dia harus lari dan bersembunyi di goa dan mengalami frustasi sampai Elia ingin mati.

·       Raja Ahab terintimidasi oleh raja Aram (1 Raj. 20:1-4)

·       Saul terintimidasi oleh perkataan Goliat (1 Sam. 17:11)

·       Seorang anak yang buta sejak lahir tidak terintimidasi oleh perkataan orang-orang Yahudi ketika mereka hendak mencobai Tuhan Yesus (Yoh. 9:24-27).




«« archive