![]() |
![]() |
|
![]() |
News and Article«« archiveTeaching Give Thanks
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. 1 Tesalonika 5:8 Tuhan mengingatkan kepada saya bahwa jemaat tidak akan mengalami terobosan (breakthrough) apabila hati mereka tidak pernah dibajak. Untuk itu, hati kita harus terus-menerus dibajak supaya kita bisa mengalami terobosan (breakthrough) di dalam kehidupan kita, karena firman Tuhan berkata; “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23). Karena kehidupan kita tidak ditentukan oleh kehebatan kita di dalam bekerja, bukan karena keterampilan dan kehebatan kita, tetapi karena faktor hati ini. Firman Tuhan tidak akan bisa tumbuh apabila hati kita masih banyak semak durinya dan berbatu-batu. Oleh sebab itu, hati kita perlu untuk terus menerus di bajak supaya benih firman itu dapat tumbuh dengan baik. Bagaimana kita menyatakan tindakan kasih kita terhadap Tuhan di dalam hidup kita? Kita bisa menyatakannya dengan cara: Memiliki hati yang mengucap syukur dalam segala hal. Salah satu wujud kasih di dalam hubungan kita dengan Tuhan adalah dengan memiliki hati yang mengucap syukur dalam segala hal dan segala keadaan kita, karena mengucap syukur adalah kehendak Tuhan di dalam kehidupan anak-anak-Nya. Mengucap syukur dalam segala hal, baik atau tidak baik keadaan kita. Mengucap syukur tidak di tentukan oleh keadaan dan kondisi kita. Oleh sebab itu, mengucap syukur harus menjadi gaya hidup kita, karena gaya hidup tidak dipengaruhi oleh keadaan. Untuk memiliki gaya hidup mengucap syukur, kita harus mengambil keputusan dan membangunnya secara sitematis sehingga kebiasaan mengucap syukur itu akan terbentuk di dalam kehidupan kita. Apabila kita telah terbiasa dengan hati yang mengucap syukur dalam segala hal, maka berkat Tuhan hanya tinggal menunggu waktu untuk kita alami. Karena Tuhan berkata kepada Ishak, ketika Ishak mengalami masa kelaparan dan hendak pergi ke Mesir, tetapi Tuhan mengintervensinya dengan berfirman, “Janganlah pergi ke Mesir… maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau…” (Kej. 26:3). Tuhan tidak berkata bahwa Ia akan menyertai dan memberkati perbuatan kita, tetapi Ia menyertai kita dan memberkati kita. Jadi, bukan karena apa yang kita lakukan, bukan karena apa yang kita perbuat yang membuat Tuhan memberkati kita, tetapi Tuhan terlebih dahulu memberkati diri kita, sehingga apa yang kita kerjakan diberkati Tuhan. Kuncinya adalah diri kita, bukan apa yang kita lakukan atau kita perbuat. Mengucap syukur adalah untuk kepentingan pribadi kita bukan untuk Tuhan. Contoh-contoh orang yang tidak bisa mengucap syukur: 1. Ketika kita diberkati ataupun dibantu oleh orang lain secara keuangan, jika kita mempunyai hati yang mengucap syukur, kita akan menerima dan mengucap syukur atas pemberian ataupun pertolongan orang itu. Tetapi seringkali orang tidak melihat hal itu, dan mereka cenderung tidak mengucap syukur atas bantuan maupun pemberian orang lain. 2. Ketika orang yang bersalah datang kepada kita untuk meminta maaf, seharusnya apabila kita mempunyai hati yang mengucap syukur kita akan menerima permohonan maaf dan bersyukur apabila orang tersebut mau berubah. Tetapi seringkali ketika kita menjumpai orang yang bersalah dan ia datang meminta maaf kepada kita, maka respons kita terhadap orang itu justru lebih bersifat negatif. 3. Ketika kita ditolong oleh seseorang dengan memberikan pekerjaan kepada kita di saat kita sedang menganggur, dan ketika kita mendapati pekerjaan yang diberikan tersebut tidak sesuai dengan keinginan hati kita, maka apabila kita memiliki hati yang tidak bisa mengucap syukur, maka kita akan menggerutu tentang pekerjaan yang diberikan orang itu kepada kita. 4. Menyepelekan dan tidak menghargai pemberian orang lain. Mengapa mengucap syukur itu penting dan apa manfaat mengucap syukur dalam hidup kita? 1. Dengan mengucap syukur kita mengusir atau menghalau perasaan-perasaan ataupun emosi-emosi yang negatif. 2. Dengan mengucap syukur kita sedang membangun atmosfer yang kondusif untuk benih firman dan iman dapat tumbuh dan bekerja secara optimal. 3. Dengan mengucap syukur membuat kita mampu melihat Tuhan di tengah-tengah kesulitan dan masalah kita sehingga menimbulkan pengharapan. 4. Dengan mengucap syukur kita sedang membangun benteng perlindungan bagi diri kita sendiri dari keserakahan dan kesombongan. Kita harus bisa mengucap syukur atas apa yang telah kita terima, tetapi kita jangan berdiam diri dan merasa puas dengan apa yang sudah kita dapat. Marilah kita menjadikan mengucap syukur sebagai gaya hidup jemaat. «« archive |